Iklan
Iklan
Iklan
Iklan

Penghargaan Inovasi Industri Halal di Malaysia Dorong Daya Saing Global

Penghargaan inovasi industri halal di Malaysia menjadi bagian dari upaya memperkuat daya saing, teknologi, dan pengembangan ekosistem halal di pasar global.

KUALA LUMPUR — Pengembangan industri halal di Malaysia terus diarahkan pada penguatan inovasi, teknologi, dan daya saing global. Salah satu bentuk apresiasi terhadap perkembangan tersebut dilakukan melalui berbagai ajang penghargaan yang memberikan pengakuan kepada pelaku industri yang menghadirkan inovasi dalam ekosistem halal.

Penghargaan inovasi industri halal menjadi bagian penting karena persaingan sektor halal kini tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan standar kehalalan produk. Pelaku usaha juga dituntut meningkatkan kualitas, efisiensi, kemampuan teknologi, keberlanjutan, serta akses pasar internasional.

SPONSORED
Tertarik dengan penawaran ini?Pilih Lihat Detail atau langsung Hubungi Kami.

Perkembangan terbaru terlihat dalam penyelenggaraan MIHAS Awards 2026, yang menjadi bagian dari Malaysia International Halal Showcase (MIHAS). Ajang tersebut memberikan penghargaan kepada pelaku usaha yang dinilai menonjol dalam keunggulan produk, inovasi, keberlanjutan, dan transformasi digital. Pada edisi 2026, sebanyak 13 penghargaan diberikan dalam tiga kelompok utama, termasuk kategori Innovation, Sustainability & Digitalisation Awards.

MIHAS sendiri telah berkembang menjadi salah satu platform perdagangan halal utama Malaysia. Sejak dimulai pada 2004, ajang tersebut digunakan untuk mempertemukan pelaku usaha dengan pasar dan mitra perdagangan dari berbagai negara. Cakupan MIHAS juga tidak terbatas pada makanan dan minuman, tetapi mencakup farmasi, keuangan syariah, modest fashion, perawatan pribadi, teknologi, jasa, hingga pariwisata ramah Muslim.

Dalam penghargaan tahun ini, inovasi dan digitalisasi mendapatkan perhatian lebih besar. Penilaian mencakup pemanfaatan solusi digital dan teknologi baru, termasuk kecerdasan buatan atau AI, untuk meningkatkan produk dan layanan, memperbaiki proses bisnis, memperluas jangkauan pasar, serta menciptakan sumber nilai baru.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa industri halal memasuki fase persaingan yang semakin kompleks. Sertifikasi dan kepatuhan terhadap standar halal tetap menjadi fondasi, tetapi pelaku industri juga harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku konsumen dan perkembangan teknologi.

Kondisi itu juga menjadi perhatian pemerintah Malaysia. Dalam pembahasan di Parlemen Malaysia mengenai perkembangan industri halal, pemerintah menyebut perlunya melihat kembali berbagai aspek ekosistem halal, termasuk sertifikasi, pengembangan talenta, kebijakan, pemasaran, serta pembangunan industri. Hingga Juli 2024, tercatat 9.146 perusahaan telah memperoleh sertifikasi halal dari JAKIM, termasuk 8.105 perusahaan mikro, kecil, dan menengah.

Malaysia juga menempatkan pengembangan industri halal dalam kerangka Halal Industry Master Plan (HIMP) 2030. Salah satu arahnya adalah meningkatkan daya saing perusahaan serta mendorong penguatan rantai pasok dan pemanfaatan teknologi digital untuk pengembangan produk inovatif.

Bagi pelaku usaha, perkembangan tersebut membuka peluang sekaligus tantangan. Penguatan teknologi dapat membantu perusahaan meningkatkan efisiensi dan menjangkau pasar baru, tetapi investasi pada sumber daya manusia, riset, sistem ketertelusuran, serta pemahaman standar halal tetap diperlukan.

Salah satu kajian terbaru mengenai perusahaan kecil dan menengah makanan dan minuman di Malaysia juga menyoroti hubungan antara penerimaan teknologi, sistem ketertelusuran halal, dan kinerja industri. Hal ini memperlihatkan bahwa digitalisasi rantai pasok menjadi salah satu area yang semakin relevan bagi pengembangan industri halal.

Di tingkat regional, perkembangan Malaysia juga menjadi bagian dari persaingan dan kerja sama yang lebih luas di kawasan ASEAN. Indonesia, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, dan negara ASEAN lainnya memiliki pasar konsumen Muslim yang besar sekaligus pelaku usaha yang semakin aktif mengembangkan produk halal.

Indonesia sendiri terus memperkuat ekosistem industri halalnya melalui pengembangan UMKM, digitalisasi, pembiayaan syariah, inovasi, serta perluasan akses pasar. Bank Indonesia, misalnya, menjadikan penguatan rantai nilai halal dan business matching sebagai bagian dari pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

Dengan perkembangan tersebut, penghargaan inovasi industri halal tidak hanya berfungsi sebagai bentuk apresiasi. Penghargaan juga dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan praktik bisnis, produk, dan teknologi yang berpotensi dikembangkan lebih luas.

Tantangan berikutnya adalah memastikan inovasi yang mendapatkan pengakuan tersebut dapat memberikan dampak nyata bagi industri. Pengembangan teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan sertifikasi, dan akses pembiayaan perlu berjalan beriringan agar pertumbuhan industri halal tidak berhenti pada pencapaian penghargaan.

Malaysia saat ini terus memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat industri halal dunia. Dengan menggabungkan standar halal, inovasi, digitalisasi, keberlanjutan, dan akses perdagangan internasional, ekosistem halal di kawasan Asia Tenggara memiliki peluang untuk berkembang semakin luas di tengah meningkatnya permintaan pasar global.

Subscribe to My Newsletter

Subscribe to my weekly newsletter. I don’t send any spam email ever!