Di tengah derasnya arus digitalisasi, banyak bisnis tumbang bukan karena produknya buruk, tetapi karena brand-nya gagal “nyambung”. Masuknya Gen Z sebagai kekuatan pasar utama telah mengubah aturan main: bisnis hari ini tidak cukup dikenal, ia harus dipercaya—dan kepercayaan dimulai dari branding.
Dalam lanskap bisnis digital, personal branding dan business branding kini menjadi fondasi strategis pertumbuhan. Gen Z, generasi yang lahir dan besar di era media sosial, memiliki karakter yang kritis, cepat menilai, dan sangat peka terhadap keaslian. Mereka tidak lagi melihat brand sebagai entitas anonim, melainkan sebagai representasi nilai, sikap, dan karakter manusia di baliknya.
Personal branding memainkan peran krusial dalam membangun kepercayaan Gen Z. Mereka ingin mengenal siapa sosok di balik bisnis: pendiri, pemimpin, atau figur yang merepresentasikan brand. Bagi Gen Z, transparansi bukan nilai tambah, melainkan standar. Founder yang komunikatif, berani bersuara, dan konsisten antara ucapan dan tindakan akan lebih mudah membangun kedekatan emosional. Dalam konteks ini, personal branding bukan pencitraan, melainkan bukti tanggung jawab dan integritas.
Sementara itu, business branding mengalami pergeseran makna. Brand tidak lagi dinilai dari seberapa megah tampilannya, tetapi dari bagaimana ia bersikap. Cara brand merespons kritik, berinteraksi di media sosial, serta mengambil posisi terhadap isu sosial menjadi indikator utama kepercayaan. Gen Z cenderung meninggalkan brand yang kaku, defensif, atau terlalu korporat. Sebaliknya, brand yang adaptif, terbuka, dan manusiawi justru tumbuh lebih cepat—bahkan dengan anggaran pemasaran yang lebih efisien.
Relasi antara personal dan business branding menjadi semakin erat. Ketika nilai personal pemimpin selaras dengan nilai brand, pesan bisnis terasa autentik dan konsisten. Gen Z sangat sensitif terhadap ketidaksinkronan. Brand yang sekadar mengikuti tren tanpa komitmen nyata akan cepat kehilangan relevansi. Dalam ekosistem digital, inkonsistensi adalah risiko reputasi yang mahal.
Era digital juga memberi Gen Z kekuatan besar dalam membentuk arah brand. Ulasan konsumen, komentar publik, hingga konten buatan pengguna memiliki dampak langsung terhadap reputasi dan pertumbuhan bisnis. Brand yang memahami karakter Gen Z tidak memandang kritik sebagai ancaman, melainkan sebagai dialog. Sikap terbuka ini menciptakan rasa memiliki dan loyalitas jangka panjang—aset paling bernilai di pasar digital.
Lebih jauh, Gen Z memandang brand sebagai bagian dari identitas diri. Pilihan terhadap suatu brand sering kali mencerminkan gaya hidup, nilai sosial, dan pandangan mereka terhadap dunia. Karena itu, bisnis dituntut untuk memiliki narasi yang jelas, posisi yang tegas, serta dampak yang nyata. Brand yang netral mungkin aman, tetapi sering kali gagal menciptakan keterikatan emosional.
Pada akhirnya, personal dan business branding bukan lagi sekadar strategi pemasaran, melainkan strategi keberlanjutan bisnis. Di era digital yang dipengaruhi kuat oleh sifat dan sikap Gen Z, brand yang bertumbuh adalah brand yang jujur, relevan, dan konsisten. Bisnis tidak harus sempurna, tetapi harus manusiawi. Sebab bagi Gen Z, kepercayaan adalah mata uang utama—dan branding adalah pintu masuknya.


