Jakarta— Mi instan memang jadi makanan favorit banyak orang karena praktis dan gurih. Namun, para dokter mengingatkan bahwa konsumsi berlebihan dapat berdampak buruk bagi kesehatan.
Dr. Manan Vora, ortopedi asal Mumbai, menegaskan bahwa makan mi instan sesekali tidak masalah, tetapi menjadikannya menu harian bisa merusak kesehatan jangka panjang. Ia menyebut mi instan sebagai makanan ultra‑proses dengan tiga “tanda merah”:
TBHQ, pengawet sintetis yang memicu stres oksidatif.
Kemasan polistirena, berisiko melepas mikroplastik saat diseduh air panas.
Pewarna, perisa sintetis, dan MSG, yang membuat rasa lebih kuat sekaligus memicu craving.
Sementara itu, dr. Sungadi Santoso dari Surabaya menambahkan bahwa mi instan terdaftar di BPOM memang aman bila dikonsumsi dalam batas wajar. Namun, masalah muncul ketika seseorang makan mi instan setiap hari. Kandungan karbohidrat dan lemak tinggi, minim protein dan vitamin, serta kadar garam berlebih dapat memicu defisiensi nutrisi, tekanan darah tinggi, obesitas, hingga penyakit degeneratif.
Kesimpulannya, mi instan tetap bisa dinikmati sesekali, tetapi bukan untuk dijadikan makanan pokok. Menjaga pola makan seimbang dengan protein, vitamin, dan mineral adalah kunci kesehatan jangka panjang.



