Sejumlah perusahaan semakin selektif merekrut Gen Z. Kesenjangan soft skill, kesiapan kerja, komunikasi, dan perubahan kebutuhan industri menjadi sorotan.
JAKARTA – Generasi Z atau Gen Z kini menjadi salah satu kelompok terbesar yang memasuki dunia kerja. Namun, kehadiran generasi yang dikenal dekat dengan teknologi tersebut ternyata tidak selalu disambut positif oleh perusahaan.
Sejumlah perusahaan mulai lebih selektif ketika merekrut pekerja muda. Persoalannya bukan semata-mata kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kesiapan menghadapi lingkungan kerja, kemampuan komunikasi, kedisiplinan, ketahanan menghadapi tekanan, hingga kemampuan beradaptasi dengan budaya organisasi.
Fenomena tersebut menjadi perhatian karena dunia kerja membutuhkan kombinasi antara kemampuan teknis dan keterampilan interpersonal. Gen Z memang tumbuh dalam lingkungan digital dan relatif akrab dengan berbagai teknologi baru. Namun, keunggulan tersebut belum otomatis membuat seluruh kandidat siap menghadapi tuntutan pekerjaan profesional.
Salah satu persoalan yang banyak dibicarakan adalah kesenjangan antara persepsi anak muda mengenai kesiapan kerja dengan penilaian dari perusahaan. Laporan Chartered Management Institute yang dikutip Euronews menunjukkan hanya sebagian kecil manajer yang menilai pekerja muda benar-benar siap memasuki dunia kerja, sementara proporsi Gen Z yang merasa telah memiliki keterampilan yang dibutuhkan jauh lebih tinggi.
Masalah lain muncul pada kemampuan yang sering kali tidak terlihat dalam daftar keterampilan teknis. Komunikasi, kolaborasi, ketahanan menghadapi tekanan, rasa ingin tahu, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis menjadi sejumlah aspek yang dinilai penting oleh perusahaan. Dalam survei yang dilakukan Hult International Business School terhadap para pemimpin HR, kemampuan seperti resilience dan komunikasi menjadi perhatian utama dalam menilai kesiapan tenaga kerja muda.
Kondisi tersebut juga tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada Gen Z. Pandemi Covid-19 ikut membentuk pengalaman generasi muda ketika mulai mengenal dunia kerja. Sebagian mahasiswa dan lulusan baru menjalani pembelajaran maupun magang secara jarak jauh sehingga kesempatan untuk belajar langsung mengenai etika kerja, komunikasi tatap muka, serta dinamika organisasi menjadi lebih terbatas.
Di sisi lain, perusahaan juga menghadapi perubahan besar akibat perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Pekerjaan entry-level yang sebelumnya menjadi pintu masuk bagi lulusan baru mulai berubah karena sebagian tugas dapat dilakukan dengan bantuan teknologi. Kondisi ini membuat perusahaan tidak hanya mencari kandidat dengan ijazah atau kemampuan dasar, tetapi juga orang yang mampu bekerja bersama teknologi dan memberikan nilai tambah yang tidak mudah digantikan mesin.
Perubahan tersebut terlihat dalam berbagai penelitian tenaga kerja. PwC melalui Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 mencatat penggunaan GenAI semakin memberikan manfaat bagi pekerja Indonesia. Sebanyak 96 persen pengguna GenAI setiap hari di Indonesia mengatakan produktivitas mereka meningkat, sementara 82 persen merasa lebih aman dalam pekerjaan dan 72 persen melaporkan peningkatan gaji.
Data tersebut menunjukkan bahwa teknologi sebenarnya tidak harus menjadi ancaman bagi Gen Z. Sebaliknya, kemampuan memanfaatkan AI dapat menjadi salah satu modal penting untuk meningkatkan daya saing. Tantangannya adalah memastikan kemampuan digital tersebut berjalan bersama kemampuan komunikasi, berpikir kritis, kepemimpinan, dan kemampuan bekerja dalam tim.
Di Indonesia, persoalan kesiapan tenaga kerja muda menjadi semakin relevan karena perusahaan harus menghadapi perubahan kebutuhan industri yang berlangsung cepat. Dunia kerja membutuhkan tenaga profesional yang tidak hanya mampu menyelesaikan tugas, tetapi juga dapat belajar hal baru, menerima masukan, beradaptasi dengan perubahan, serta memahami tujuan bisnis perusahaan.
Karena itu, anggapan bahwa perusahaan “ogah” merekrut Gen Z perlu dilihat secara lebih proporsional. Tidak semua perusahaan menolak pekerja dari generasi tersebut. Bahkan, sejumlah perusahaan tetap melihat Gen Z sebagai sumber talenta penting karena kemampuan digital, kreativitas, serta kedekatan mereka dengan perkembangan teknologi.
Yang menjadi persoalan adalah adanya jarak antara ekspektasi kandidat dan ekspektasi perusahaan. Gen Z cenderung membawa perspektif baru mengenai fleksibilitas, keseimbangan hidup, pengembangan karier, dan makna pekerjaan. Sementara itu, perusahaan tetap membutuhkan produktivitas, tanggung jawab, disiplin, dan kemampuan bekerja sesuai target.
Kesenjangan tersebut sebenarnya dapat dijembatani melalui komunikasi yang lebih baik. Perusahaan perlu menyediakan program mentoring, pelatihan, dan jalur pengembangan karier yang jelas. Di sisi lain, Gen Z juga perlu memahami bahwa memasuki dunia profesional berarti harus siap menerima proses belajar, evaluasi, tanggung jawab, serta tuntutan untuk terus meningkatkan kemampuan.
Pada akhirnya, persoalan perekrutan Gen Z bukan sekadar persoalan satu generasi lebih baik atau lebih buruk daripada generasi sebelumnya. Ini merupakan bagian dari perubahan besar dalam dunia kerja. Ketika teknologi berkembang cepat dan pola kerja berubah, perusahaan maupun pekerja sama-sama dituntut untuk beradaptasi.
Bagi Gen Z, kemampuan digital dapat menjadi pintu masuk. Namun, kemampuan membangun komunikasi, menjaga profesionalisme, bekerja sama, menyelesaikan masalah, dan menunjukkan ketahanan dalam menghadapi tantangan akan menjadi faktor yang menentukan keberlanjutan karier.
Sementara bagi perusahaan, tantangannya bukan hanya menemukan kandidat yang “siap pakai”, tetapi juga membangun sistem yang mampu mengembangkan talenta muda. Dengan pendekatan tersebut, perbedaan antara ekspektasi perusahaan dan karakter Gen Z dapat berubah dari persoalan menjadi peluang untuk membangun lingkungan kerja yang lebih adaptif.



